2 Ramadan 1446 H – Allah mewajibkan para manusia (mukmin) untuk berpuasa di bulan Ramadan, tentu bukan tanpa alasan. Pada hakikatnya, puasa diharapkan menjadi penjaga diri (self-control) dari dorongan nafsu manusia, agar terjaga dari perilaku di luar batas tataran normatif kehidupan. Demikian pula makhluk lain (hewan) yang Allah takdirkan untuk berpuasa, pasti juga berkaitan dengan kebaikan dan siklus keberlangsungan kehidupan. Puasa tidak hanya membawa kebaikan untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk ciptaan lainnya, seperti hewan. Dari perilaku puasa para hewan, banyak sekali manfaat kebaikan, yang dapat dipetik sebagai pembelajaran oleh manusia.

Dalam Kajian Matahari Pagi Ramadan (Mapara), pada hari Ahad (2 Maret 2025), Prof Ari Purbayanto membahas tentang perilaku puasa para hewan, dampak serta manfaat dari perilaku tersebut. Melalui kajian zoom meeting, guru besar IPB ini menyampaikan tentang beberapa manfaat berpuasa untuk manusia. Selain untuk membersihkan diri dan jiwa, puasa dapat membersihkan dari endapan keburukan dan akhlak yang rendah (QS Al Hujurat :13). Dalam salah satu penelitian, puasa bermanfaat untuk melakukan autophagy (kesempatan bagi sel-sel dalam tubuh untuk membuang sampah). Autophagy ini bermanfaat pada kesehatan manusia, yaitu meningkatkan umur panjang, menurunkan resiko cancer, meningkatkan respon imun, menurunkan resiko penyakit neurodegenaratif dan membuat kadar gula menjadi lebih baik.

Melalui materi slide yang dibagikan di layar zoom, Prof Ari juga menyampaikan bahwa manusia seharusnya juga belajar dari puasa para hewan. Contoh puasa pada hewan adalah hibernasi (tidur selama musim panas). Hibernasi dapat dilakukan berbulan-bulan, oleh beberapa hewan, karena menghadapi kelangkaan makanan maupun mencegah dehidrasi. Dalam kehidupan hewan, puasa dilakukan secara alamiah dan tanpa sengaja. Puasa dilakukan oleh hewan dengan tujuan untuk bertahan hidup, istirahat dan peremajaan fisik, dan regenerasi serta kelangsungan hidupnya. Sebagai contoh, buaya melakukan puasa (tidak makan) untuk bertahan hidup. Ular juga berpuasa selama 21 hari, untuk beristirahat dan peremajaan kulitnya. Unta juga berpuasa untuk mempersiapkan bekal untuk aktivitas berat dan panjang. Ayam berpuasa tatkala mengerami telur, dan untuk kelangsungan regenerasi. Ulat yang berpuasa, karena untuk mengubah jatidiri menjadi fisik yang lebih baik, menawan dan bermanfaat. Ikan hiu juga berpuasa, dalam waktu yang lumayan lama (42 hari) setelah memangsa seberat 30 kg. Sesungguhnya jika hiu kenyang, tidak akan mencari mangsa. Demikian pula Salamander Fish (Lungfish), yang dijuluki mayat hidup. Menurut laporan dari San Diego Zoo, makhluk ini dapat berpuasa 5 tahun di lingkungan tanpa air, karena ia memiliki paru-paru. Puasa pada burung elang, dapat membantu bertahan hidup dan memperpanjang umurnya. Elang akan terbang jauh ke hutan atau gua, untuk menetap di sana, melepas bulu dan paruhnya, dan melakukan puasa selama 150 hari. Peneliti hewan mencatat, bahwa setelah hibernasi (puasa), hewan kan menjadi lebih sehat dan lebih energik.
Hikmah pembelajaran dari puasanya para hewan, bahwa semestinya manusia berpuasa seperti burung elang dan ulat, bukan seperti puasanya ular. Setelah selesai berpuasa, elang akan menjadi individu baru, gagah, kuat dan memiliki energi serta semangat baru untuk melanjutkan petualangan di alam liar (wild nature). Sedangkan ulat, usai berpuasa akan menjelma menjadi makhluk baru yang sangat indah bernama kupu-kupu. Setelah menjadi kupu-kupu, ia bisa terbang, mengkonsumsi makanan sari pati bunga (berbeda saat menjadi ulat yang merusak tanaman), selanjutnya ia menjadi hewan bermanfaat untuk penyerbukan dan pembuahan.
Sebagai bahan renungan, apabila puasa manusia tidak memberikan dampak perubahan perilaku, karakter berakhlaq mulia, menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat maka puasa manusia sama seperti puasanya ular, yang hanya berganti kulit, namun tidak berubah karakternya.
Sebaliknya agar puasa manusia, dapat seperti ulat yang menjadi kupu-kupu, maka manusia harus berpuasa sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Ramadan adalah kesempatan emas untuk belajar, mengasah diri dan untuk diimplementasikan dalam kehidupan pasca ramadan. Sehingga memperoleh banyak manfaat dan keberkahan untuk keberlangsungan kehidupan bermasyarakat.
Catatan:
Matahari pagi ramadan (Mapara) adalah kajian daring (online) yang diselenggarakan setiap pagi di bulan Ramadan oleh komunitas IRo Society.

Masya Allah indahnya berbagi ilmu, berbagi kebaikan.
Kapan ya dapat belajar menulis seperti ibu guru cantik ini.
Lovely Mba Silvi.
Matur nuwun bu Titik cantik, berkenan singgah.
Tulisan sangat inspiratif dan bermanfaat
Mbak Silvi memang ok .Semoga barokah ya.
Terima kasih Mbak Silvi, mengingatkan kembali betapa semua makhluk itu berpuasa
Bagaimana dengan puasa kita?