Puncak Budugasu 1422 mdpl

Kalau Anda sedang mencari destinasi trekking yang tidak terlalu jauh dari Malang, tetapi tetap menawarkan tantangan dan pemandangan yang memanjakan mata, Puncak Budugasu dapat menjadi salah satu pilihan menarik.

Berada di kawasan Singosari, Kabupaten Malang, Budugasu memiliki ketinggian sekitar 1.422 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung kecil ini ternyata menyimpan pengalaman trekking yang cukup seru, terutama bagi mereka yang ingin merasakan sensasi mendaki tanpa harus bermalam atau mendirikan tenda.

Kami pun mencoba perjalanannya dengan konsep tektok: berangkat pagi, naik ke puncak, menikmati pemandangan, lalu turun kembali pada hari yang sama.

Berangkat Saat Malang Masih Gelap

Perjalanan kami dimulai cukup pagi. Pukul 04.30 WIB, kami berangkat dari Malang Selatan. Targetnya sederhana: sebelum matahari terlalu tinggi, kami sudah berada di jalur menuju puncak Budugasu.

Perjalanan menuju kawasan BBIB Singosari memakan waktu sekitar satu jam. Tepat sekitar 05.45 WIB, kami tiba di pintu masuk BBIB. Bagi pengunjung yang menggunakan sepeda motor, akses menuju Budugasu dapat melalui jalur BBIB Singosari. Sementara bagi pengunjung yang membawa mobil, tersedia akses melalui jalur Kebun Teh Wonosari.

Trek menuju Basecamp Budugasu

Sesampainya di pintu masuk BBIB, kami diarahkan untuk masuk dan melakukan pembelian tiket kepada petugas yang lokasinya sekitar satu kilometer dari pintu masuk. Setelah tiket diperoleh, perjalanan dilanjutkan menuju area parkir yang berjarak kurang lebih dua kilometer. Dan ternyata, perjalanan menuju parkiran saja sudah memberikan bonus pemandangan yang menarik.

Menuju Parkiran, Disuguhi Pemandangan Arjuno

Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Gunung Arjuno terlihat berdiri gagah di kejauhan. Pemandangan semakin menarik karena di sisi kanan dan kiri jalan terdapat berbagai tanaman buah yang dibudidayakan oleh BBIB, seperti mangga, durian dan alpukat. Pagi hari dengan udara yang masih sejuk, jalan yang relatif tenang, dan pemandangan Gunung Arjuno membuat perjalanan menuju parkiran terasa menyenangkan. Sesampainya di tempat parkir, kendaraan kami tinggalkan. Dari sinilah perjalanan sebenarnya dimulai. Kali ini, kaki yang bekerja.

Trek Awal: 45 Menit Menuju Basecamp

Dari area parkir, kami harus berjalan kaki sekitar 45 menit menuju basecamp.

Jalur awal cukup lebar dengan permukaan berbatu. Karena itu, menggunakan sepatu yang proper sangat disarankan. Sepatu dengan grip yang baik akan membuat perjalanan terasa lebih aman dan nyaman.

Di sepanjang perjalanan, suasana terasa cukup sejuk. Di kanan dan kiri jalur terdapat kebun kopi yang membuat perjalanan semakin menarik. Semakin mendekati basecamp, pemandangan berubah. Kebun kopi mulai berganti dengan hutan pinus yang membuat suasana terasa lebih teduh dan asri. Bagi pendaki pemula, trek awal ini cukup bersahabat. Tidak terlalu ekstrem dan bisa menjadi pemanasan sebelum menghadapi tantangan yang sebenarnya.

View Mt. Arjuno dari tempat parkir kendaraan

Sampai di Basecamp: Pilih Jalur!

Setelah sekitar 45 menit berjalan, akhirnya kami tiba di basecamp. Di sini, pengunjung kembali melakukan pembelian tiket dengan harga sekitar Rp10.000 per orang. Tidak jauh dari basecamp terdapat papan penunjuk arah yang memberikan dua pilihan jalur menuju Puncak Budugasu. Jalur pertama merupakan jalur yang lebih pendek, tetapi jauh lebih menantang. Jaraknya sekitar 800 meter dan di dalamnya terdapat trek yang dikenal sebagai Tanjakan Demit. Namanya saja sudah cukup membuat penasaran. Trek ini memiliki kemiringan yang cukup ekstrem, bahkan pada beberapa bagian terasa seperti harus menaklukkan tanjakan dengan kemiringan hampir 90 derajat.

Basecamp menuju Puncak Budugasu

Jalur dua lebih landai, untuk yang ingin perjalanan lebih santai, jalur ini sangat bersahabat. Walaupun jalurnya memutar dengan jarak sekitar 2 kilometer, dengan waktu tempuh yang lebih panjang. Tentu jalurnya relatif lebih bersahabat dibandingkan jalur Tanjakan Demit.

Didorong oleh rasa penasaran oleh nama tanjakan yang unik, kami akhirnya memilih jalur pertama untuk lebih cepat mencapai puncak Budugasu. Tanjakan Demit-800 meter, Gaasss!

Jalur Percabangan menuju Puncak Budugasu

800 Meter yang Menguras Energi dan Nyali

Kalau melihat angka 800 meter, mungkin kita akan berpikir, “Ah, dekat.” Ternyata tidak sesederhana itu. Tanjakan Demit benar-benar menguras energi. Kemiringan jalurnya membuat langkah harus lebih hati-hati. Pada beberapa bagian trek naik ini, disediakan tali sebagai alat bantu pendaki untuk menyusuri tanjakan. Bahkan kami harus menggunakan tangan untuk membantu menjaga keseimbangan. Bukan hanya kaki yang bekerja, tetapi keberanian dan konsentrasi juga ikut diuji. Setiap kali melihat ke atas, rasanya puncak masih jauh. Tetapi ketika melihat ke belakang, pemandangan yang terbuka membuat kita sadar bahwa setiap langkah memang membawa kita semakin tinggi. Di sinilah trekking Budugasu terasa berbeda.

Jaraknya boleh pendek, tetapi tantangannya tidak main-main.

Setelah berjalan sekitar satu jam melewati jalur Tanjakan Demit, akhirnya kami melihat tanda bahwa perjalanan hampir sampai. Dan beberapa langkah kemudian…Puncak Budugasu!

Semua Lelah Terbayar di Puncak

Sesampainya di puncak, rasa lelah yang sejak tadi menumpuk seolah langsung terbayar. Di depan mata, Gunung Arjuno berdiri gagah. Salah satu gunung di Jawa Timur yang sangat dikenal, oleh para pecinta alam dan pendakian. Pemandangan yang terbuka di puncak Budugasu membuat kami sejenak lupa dengan napas yang masih terengah-engah dan kaki yang mulai terasa pegal. Angin di puncak terasa berbeda. Udara sejuk, langit yang mulai terang, dan panorama pegunungan menjadi hadiah setelah berhasil melewati Tanjakan Demit. Kami pun memutuskan untuk menikmati suasana puncak sekitar 30 menit. Tidak terlalu lama, karena perjalanan turun masih menunggu. Sambil menikmati pemandangan, kami mengisi kembali tenaga dengan beberapa roti dan snack yang sudah dibawa dari rumah. Setelah cukup beristirahat dan puas menikmati panorama, muncul pertanyaan berikutnya, Turun lewat mana?

Kalau saat naik kami memilih jalur ekstrem, tentu rasanya kurang bijak kalau turun lagi melalui jalur yang sama. Di samping karena membayangkan menuruni tanjakan demit, terasa sedikit mengerikan. Akhirnya kami memilih jalur landai sejauh kurang lebih 2 kilometer. Dan ternyata, keputusan itu cukup tepat.

Turun Lewat Jalur Landai

Perjalanan turun melalui jalur landai memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi terasa lebih nyaman dibandingkan harus kembali menghadapi Tanjakan Demit. Jalur ini cukup sejuk, terasa segar karena trek berada di antara rerimbunan pohon-pohon hutan yang terlindung dari Terik matahari. Kami melewati beberapa spot dengan nama yang unik, ada ‘Alas cilik’ yang faktanya dipenuhi pepohonan yang rimbun dan tinggi menjulang. Ada pula ‘Tanjakan Pitak’, entah apa maksud dari nama tanjakan ini. Yang pasti langkah demi Langkah yang kami lalui terasa lebih Santai, ringan sambil menikmati suasana alam.

Jalur turun dari Budugasu via Alas Cilik

Butuh sekitar 45 menit untuk sampai di titik basecamp Budugasu. Kemudian Langkah kaki kami lanjutkan menyusuri trek berbatu untuk kembali ke tempat memarkir kendaraan. Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya kami kembali sampai di kawasan pintu masuk BBIB. Rasanya lega. Perjalanan tektok yang dimulai sejak pagi akhirnya hampir selesai. Tetapi ternyata masih ada satu kejutan kecil yang menyenangkan.

Tiket Ditukar dengan Susu Dingin

Setelah sampai di pintu BBIB, kami menukarkan tiket yang sebelumnya diperoleh dengan sebotol susu pasteurisasi dingin di Cafe Arjuno. Setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga, susu dingin tentu terasa seperti hadiah kecil yang sangat menyenangkan. Dan ternyata, perjalanan kami belum benar-benar selesai. Cafe Arjuno menjadi tempat yang pas untuk melepas lelah.

Kami bisa duduk santai, beristirahat, sekaligus menunaikan sholat Dhuhur sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Yang paling menarik, kami juga memutuskan untuk makan siang di sini.

Makan Siang dengan Menu yang Bikin “Wow!”

Setelah berjalan cukup jauh, perut tentu mulai meminta perhatian. Berbagai sajian makanan dan minuman tersedia di Cafe Arjuno. Suasananya juga nyaman untuk beristirahat setelah aktivitas trekking. Kami akhirnya memilih salah satu menu, yaitu Rahang Tuna bakar. Dan ternyata…Wow! Enak sekali.

Setelah hampir seharian berjalan, menikmati tanjakan, menghirup udara pegunungan, dan menaklukkan Tanjakan Demit, makan siang menjadi penutup yang sempurna. Perpaduan antara rasa lapar setelah trekking dan makanan yang lezat membuat menu Rahang Tuna terasa semakin nikmat. Rasanya seperti mendapatkan bonus terakhir setelah berhasil mencapai puncak.

Budugasu: Pendek Jalurnya, Panjang Ceritanya

Perjalanan ke Puncak Budugasu kali ini memang kami lakukan dengan konsep sederhana: tektok, tanpa camping. Berangkat pagi dari Malang Selatan, menikmati perjalanan menuju BBIB, berjalan melewati kebun kopi dan hutan pinus, menaklukkan Tanjakan Demit, menikmati panorama Gunung Arjuno dari puncak Budugasu, kemudian turun melalui jalur landai dan menutup perjalanan dengan susu dingin serta makan siang di Cafe Arjuno.

Satu hari. Tanpa tenda. Tanpa menginap, tetapi ceritanya cukup panjang untuk dikenang. Budugasu mungkin bukan gunung dengan ketinggian ribuan meter yang fantastis. Namun, jangan tertipu dengan angkanya. 1.422 mdpl ternyata mampu memberikan pengalaman yang luar biasa.

Bagi Anda yang sedang mencari destinasi trekking di sekitar Malang untuk mengisi akhir pekan, Budugasu bisa menjadi pilihan yang menarik. Terutama jika Anda ingin merasakan sensasi mendaki, tetapi belum siap untuk perjalanan panjang dan camping.  Ingat dengan satu pesan kami, ‘Jangan remehkan 800 meter Tanjakan Demit!’, karena di Budugasu, jarak yang pendek bisa memberikan tantangan yang panjang. Dan ketika akhirnya sampai di puncak, Anda akan mengerti bahwa setiap langkah yang melelahkan tadi memang layak diperjuangkan.

Budugasu 1.422 mdpl — kecil di ketinggian, besar di pengalaman.
24 Agustus 2026, Silvi

By Silvilink

Welcome to my personal website. I am Silvi, a teacher at Muhammadiyah Vocational School in Malang Regency. I have a passion for education, traveling, exploring unique places, and cuisine. I also enjoy writing articles in the newspaper and have written several textbooks and anthology books. I hope you will find the uniqueness, beauty, and benefits within my website. Thank you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *